Selamat Hari Masyarakat Adat Se-Dunia, Yunus Saflembolo: Papua Bangkit, Indonesia Rumah Bersama - Seruan Dari Papua Untuk Dunia

Terkini 09 Aug 2026 21:36 8 min read 119 views By Redaksi

Share berita ini

Selamat Hari Masyarakat Adat Se-Dunia, Yunus Saflembolo: Papua Bangkit, Indonesia Rumah Bersama - Seruan Dari Papua Untuk Dunia
Gempur 86.my.id, Papua - Masyarakat Adat Tanah Papua: Menjadi Penentu dan Pengawal Asta Cita serta Program Strategis Nasional — Merenovasi dan Memperb...

Gempur 86.my.id, Papua - Masyarakat Adat Tanah Papua: Menjadi Penentu dan Pengawal Asta Cita serta Program Strategis Nasional — Merenovasi dan Memperbaiki Cita-Cita Luhur Menuju Papua Maju, Indonesia Sejahtera

Tanggal: 9 Agustus 2026:
Seruan Kepala Yang terhormat para pejabat, para Pemangku Adat, Dewan Adat, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, serta seluruh saudara-saudaraku masyarakat adat Tanah Papua yang saya kasihi. Puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa. Atas kasih dan penyertaan-Nya, pada hari yang mulia ini, kita berkumpul memperingati Hari Masyarakat Adat Internasional. Peringatan ini adalah momen pernyataan tegak: kitalah pemilik pertama tanah ini, kitalah akar kehidupan di bumi Papua, dan kitalah yang paling berhak menjadi Penentu sekaligus Pengawal setiap langkah pembangunan yang menyentuh tanah leluhur kita.

BERIKUT ADALAH DELAPAN POIN ASTA CITA DAN PERAN MASYARAKAT ADAT

Pemerintah telah menetapkan Asta Cita — delapan agenda utama pembangunan nasional sebagai arah kemajuan bangsa. Namun setiap poin agenda itu harus kita periksa, kita luruskan, dan kita awasi agar selaras dengan cita-cita luhur masyarakat adat. Berikut peran kita sebagai Penentu dan Pengawal:
1. Memperkokoh Ideologi Pancasila, Demokrasi, dan HAMKita menuntut agar HAM mencakup hak-hak adat dan hak atas tanah ulayat. Demokrasi berarti suara masyarakat adat didengar dan menjadi dasar keputusan, bukan sekadar diundang hadir saat program sudah ditetapkan. Pancasila berarti keadilan sosial bagi seluruh anak negeri, termasuk anak-anak tanah Papua.
2. Kemandirian Pangan, Energi, Air, Ekonomi Hijau dan BiruKemandirian pangan tidak boleh merampas tanah adat. Sagu, keladi, dan hasil kebun leluhur adalah fondasi pangan sejati. Ekonomi hijau dan biru berarti menjaga hutan dan laut sesuai kearifan adat, bukan menyerahkan pengelolaan kepada pihak luar tanpa persetujuan lembaga adat. Kita menentukan potensi apa yang dikembangkan di tanah dan laut kita sendiri.
3. Lapangan Kerja Berkualitas dan KewirausahaanPembangunan harus membuka lapangan kerja bagi anak-anak Papua sendiri. Jangan lagi pembangunan di tanah Papua dikerjakan tenaga dari luar, sementara anak negeri menjadi penonton. Kita menuntut pelatihan, pendampingan, dan modal usaha bagi pemuda adat agar mampu mengelola potensi tanah leluhur.
4. Penguatan SDM, Pendidikan, dan KesehatanPendidikan dan kesehatan harus menjangkau kampung-kampung adat yang terpencil. Kurikulum pendidikan harus menghormati budaya dan kearifan lokal, bukan menghilangkan jati diri anak Papua. Rumah sakit dan puskesmas harus tersedia di wilayah adat, bukan hanya di kota besar. Kita mengawasi agar anggaran benar-benar sampai melayani masyarakat adat.
5. Hilirisasi dan IndustrialisasiHilirisasi berarti mengolah hasil bumi dan laut di tanah Papua sendiri, bukan mengirim bahan mentah ke luar lalu membeli kembali hasil olahannya dengan harga mahal. Sagu, kopi, keladi, hasil laut — semuanya harus memiliki nilai tambah di tanah leluhur. Kita menentukan komoditas apa yang dikembangkan dan bagaimana pengelolaannya.
6. Membangun dari Desa dan Bawah, Pemerataan EkonomiPembangunan dimulai dari kampung, dari wilayah adat. Koperasi Desa Merah Putih dan pembangunan kampung nelayan harus dikelola bersama masyarakat adat, bukan diambil alih pihak lain. Dana pembangunan desa harus transparan dan diawasi oleh lembaga adat. Jangan ada lagi pembangunan yang merampas tanah warga atas nama program pemerintah.
7. Reformasi Hukum, Birokrasi, dan Pemberantasan KorupsiHukum harus melindungi hak adat, bukan sebaliknya. Tanah ulayat harus dipetakan, diakui, dan dilindungi undang-undang. Birokrasi harus sederhana dan melayani masyarakat adat, bukan mempersulit. Korupsi di tanah Papua merampas masa depan anak-anak negeri — kita mengawasi setiap rupiah anggaran yang masuk ke wilayah kita.
8. Harmoni Lingkungan, Budaya, dan ToleransiPembangunan tidak boleh merusak sungai, hutan, dan laut kita. Kearifan adat menjaga alam harus menjadi dasar hukum lingkungan, bukan sekadar diakui secara lisan. Budaya, bahasa, dan nilai-nilai adat harus dilindungi dan dihargai. Jangan biarkan pembangunan menghapus tujuh wilayah adat dan kekayaan budaya kita.

PROGRAM STRATEGIS NASIONAL YANG HARUS KITA KAWAL
Selain delapan poin Asta Cita, terdapat program-program strategis nasional yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat adat Tanah Papua, yaitu:
1. Pemetaan dan Pengakuan Tanah Ulayat / Wilayah AdatProgram pemetaan tanah ulayat harus melibatkan lembaga adat dan pemangku adat secara langsung. Jangan pemetaan dilakukan pihak luar tanpa kehadiran pemilik tanah. Tanah yang sudah dipetakan dan diakui harus disertifikasi atas nama masyarakat hukum adat, bukan perorangan atau pihak lain.
2. Pembangunan Ekonomi Berbasis Wilayah AdatPembangunan di tujuh wilayah adat — Tabi, Saireri, Domberai, Bomberai, Mee Pago, Laa Pago, dan Anim Ha — harus disesuaikan dengan potensi dan budaya masing-masing wilayah. Satu unggulan per kabupaten/kota harus ditentukan bersama masyarakat adat, bukan ditetapkan dari atas tanpa musyawarah.
3. Program Papua Cerdas, Papua Sehat, Papua Produktif, Papua DamaiEmpat pilar utama pembangunan Papua ini harus melibatkan Dewan Adat dalam perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan. Dana Otonomi Khusus harus transparan dan dapat diperiksa oleh perwakilan masyarakat adat.
4. Koperasi Desa Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah PutihProgram ini harus dikelola oleh warga setempat yang dipilih secara musyawarah adat. Jangan diambil alih oleh pihak tertentu atau instansi tertentu sehingga warga hanya menjadi penonton. Lahan yang digunakan untuk program ini harus atas persetujuan pemilik tanah dan mendapat ganti untung yang layak.
5. Asta Cita Rasa PapuaPendekatan pembangunan yang berakar pada budaya dan partisipasi masyarakat Papua ini harus menjadi jalan utama. Artinya: setiap program harus berbicara dengan hati dan budaya orang Papua, bukan memaksakan cara pandang dari luar.

SERUAN DAN HARAPAN KITA

Kepada Pemerintah Pusat dan Pemerintah di Enam Provinsi Tanah Papua:

Tempatkanlah Dewan Adat, Pemangku Adat, dan Lembaga Adat sebagai mitra utama — dari perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan. Jangan susun program tanpa melibatkan kita dari awal. Jangan laksanakan program tanpa persetujuan kita. Jangan serahkan pengawasan kepada pihak yang tidak memiliki ikatan darah dan tanah di sini. Merenovasilah segala kebijakan yang menyimpang dari cita-cita luhur: tanah untuk anak cucu, alam dijaga demi kehidupan bersama, pembangunan membawa berkat bukan penderitaan.

Kepada Seluruh Masyarakat Adat Tanah Papua:

Bangkitlah, bersatulah. Pelajarilah delapan poin Asta Cita dan seluruh program nasional tersebut. Pahami isinya, bandingkan dengan hak-hak kita, dan awasi pelaksanaannya di kampung, di distrik, di kabupaten, hingga ke provinsi. Jangan takut menyuarakan kebenaran. Jangan diam ketika hak kita dirampas. Sebab tanah ini milik kita, dan masa depan pembangunan di tanah ini harus kita tentukan bersama.

Kepada Seluruh Anak Negeri:

Kemajuan tanpa keadilan bukan kemajuan. Pembangunan tanpa penghormatan terhadap hak adat bukan pembangunan sejati. Mari kita bangun bersama: dari tanah leluhur, pendapatan berkualitas, kesejahteraan sejati — Papua Maju, Indonesia Sejahtera.

MOTIVASI DAN DORONGAN KEPADA GENERASI MUDA PAPUA Berdasarkan Empat Pilar Utama: PAPUA CERDAS — PAPUA SEHAT — PAPUA PRODUKTIF — PAPUA DAMAI.

KEPADA PARA PUTRA-PUTRI MASYARAKAT ADAT TANAH PAPUA

Anak-anakku, pemuda-pemudi harapan tanah Papua.

Kitalah penerus darah para leluhur. Kitalah pemilik masa depan tanah ini. Empat pilar pembangunan — Papua Cerdas, Papua Sehat, Papua Produktif, Papua Damai — bukan sekadar kata-kata indah di atas kertas. Itu adalah jalan hidup yang Tuhan titipkan kepada kita untuk diwujudkan dengan tangan sendiri.

"PAPUA CERDAS — Terangi Jalan dengan Ilmu"

"Belajarlah giat, jangan pernah lelah menuntut ilmu. Ilmu adalah cahaya yang Tuhan berikan agar kita mampu memimpin tanah leluhur, bukan hanya menjadi penonton di bumi sendiri. Pendidikan tidak boleh memisahkanmu dari jati dirimu — gunakanlah ilmu untuk melindungi adat, menjaga tanah, dan membangun bangsa dengan bijaksana.

"PAPUA SEHAT — Kuatkan Tubuh dan Jiwa"Jaga kesehatan tubuhmu"

Karena di dalamnya mengalir darah para pejuang tanah Papua. Jaga kesucian hatimu, jauhkan dari hal-hal yang merusak masa depan. Tubuh yang sehat dan jiwa yang bersih adalah kekayaan sejati — bekal untuk melanggar jauh, membangun rumah, membangun kampung, membangun tanah pertiwi.

"PAPUA PRODUKTIF — Berkarya dari Tanah Sendiri"

"Bekerjalah dengan tanganmu sendiri. Jangan malu bertani, jangan malu melaut, jangan malu berkreasi dari sagu, keladi, dan segala yang tumbuh di tanah ini. Kemajuan sejati lahir dari keringat sendiri — mengolah potensi leluhur menjadi berkah, membangun kesejahteraan yang berkualitas dan berkelanjutan. Jadilah pencipta, bukan sekadar penunggu.

"PAPUA DAMAI — Satukan Hati, Jaga Persaudaraan"

Di dalam perbedaan suku dan bahasa, tetaplah satu saudara. Jangan biarkan perpecahan merusak rumah kita. Damai dimulai dari hatimu, dari sikapmu, dari keramahanmu kepada sesama. Hati yang bersatu adalah benteng terkuat bagi tanah Papua. Dengan damai, Tuhan akan turunkan berkat-Nya melimpah atas tanah dan usaha kita.

"SERUAN DAN DORONGAN HATI"
Wahai generasi penerus Tanah Papua!Jangan menunggu orang lain membangun tanahmu. Bangkitlah, berdirilah tegak!
✅ Cerdaslah, agar tidak tertipu oleh janji-janji manis yang merugikan;
✅ Sehatlah, agar mampu bekerja keras dan melanggar jauh demi masa depan;
✅ Produktiflah, agar dari tanah sendiri lahir kesejahteraan yang sejati;
✅ Damailah, agar persaudaraan kita menjadi kekuatan yang tak terkalahkan.

Ingatlah: Tanah ini milik kita, masa depan ini milik kita. Tuhan beserta kita. Majulah terus, jangan pernah menyerah!
Dari tanah leluhur, untuk anak cucu. Papua Cerdas! Papua Sehat! Papua Produktif! Papua Damai!"

Biarlah peringatan Hari Masyarakat Adat Internasional tahun 2026 ini menjadi kesepakatan bersama: Masyarakat Adat Tanah Papua berdiri tegak sebagai PENENTU arah dan PENGAWAS pelaksanaan Asta Cita serta seluruh Program Strategis Nasional. Jika selaras dengan cita-cita luhur leluhur, kita dukung sepenuh hati. Jika menyimpang, kita luruskan bersama-sama.

Tuhan memberkati tanah leluhur kita. Tuhan Memberkati langkah kita membangun Papua yang bermartabat, adil, dan sejahtera bersama seluruh Indonesia.

"Selamat Hari Masyarakat Adat Internasional.Terima kasih.


(Red)


Papua, 09 Agustus 2026
Yunus Saflembolo, SE,. MTP,.

Gempur86